Mengasah Kreativitas, Menjaga Lingkungan

Kompas.com - 12/11/2012, 15:52 WIB

GENCARNYA promosi melalui berbagai media termasuk menggelar Festival Raja Ampat sejak 2012 di Pantai Waisai Tercinta pada 18-21 Oktober lalu makin membuat banyak orang ingin menjajal keindahan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Misi penyelenggaraan Festival Raja Ampat 2012, yang menampilkan seni dan budaya seperti suling tambur, tari wayase, dan lomba perahu hias dengan tema ikan, memang tak lagi sekadar mempromosikan keelokan Raja Ampat. Tak ketinggalan pula misi menjaga lingkungan.

Paling utama adalah bagaimana pariwisata di kabupaten dengan dengan 610 gugus pulau karang itu juga bisa menggugah kreativitas warga setempat sehingga ekonomi bisa berdenyut.

Tak ketinggalan kuliner khas Raja Ampat, yakni kuliner berbahan dasar sagu dan produk olahan dari laut. Juga ada kerajinan tangan berupa anyaman topi, tikar, noken, tas, serta kerajinan berbahan tempurung kelapa dan kulit mutiara diperkenalkan selama festival berlangsung.

Lomba kuliner khas Raja Ampat dan kerajinan tangan serta seni dan budaya lokal dimaksudkan agar warga benar-benar merasakan betapa bisnis pariwisata mampu menggerakkan roda perekonomian dari berbagai sektor.

Cuaca terik 45 derajat celsius tak menyurutkan semangat warga lokal untuk mengikuti berbagai acara yang digelar di tepi pantai yang masih bersih itu. Sisma Kabes (26), warga Kampung Warsambim, Kecamatan Distrik Teluk Maya Libit, Kabupaten Raja Ampat, misalnya.

Ia bersama kerabat dan tetangganya antusias mengikuti berbagai lomba sejak pagi hingga malam hari meski beberapa acara tertunda karena ketidaksiapan panitia. Mereka ingin terlibat dalam kegiatan seni dan budaya itu meski hanya sebagai peserta berbagai lomba yang digelar. ”Kami tak hanya mau menonton, tetapi juga ingin ikut dalam semua kegiatan lomba,” ujar Elisabet (34), warga Waisai. Untuk itu, ia memang terus latihan supaya bisa tampil bagus.

Keterlibatan warga dalam kegiatan festival, menurut Gubernur Papua Barat, Abraham O Atururi, sudah meningkat, terutama dalam memunculkan produk kerajinan dan kuliner. Abraham justru mengkritik seragam panitia festival berupa t-shirt atau kaus, sedangkan dia tampil beda memakai busana pantai yang gombrang dengan motif kembang nge-jreng.

Karena festival ini digelar di wilayah pantai, menurut Abraham, sebaiknya pakaian panitia dan seluruh pengunjung bukan t-shirt.

Abraham kala itu mengubah istilah Pantai Waisai Tercinta menjadi Waisai kiTorang Cinta.

Penyelenggaraan festival yang menelan biaya sekitar Rp 3 miliar, termasuk anggaran dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rp 650 juta, itu juga untuk mendorong warga setempat agar lebih kreatif sehingga bisa mendongkrak ekonomi keluarga.

Pada kesempatan itu juga dicanangkan gerakan cinta lingkungan agar pantai bebas dari sampah. Total wilayah Raja Ampat yang disebut ”Kapal Burung” itu seluas 46.108 kilometer persegi. Sekitar 85 persen di antaranya berupa laut. Jadi, sangat tepat jika dikampanyekan gerakan tidak buang sampah sembarangan.

Jika sampah plastik semakin memenuhi pantai dan laut, bukan hanya terumbu karang yang rusak, penghasilan warga yang umumnya nelayan pun bisa turun. Padahal, Raja Ampat terletak di jantung segitiga terumbu karang dunia, pusat keanekaragaman hayati laut, dan sekitar 75 persen terumbu karang dunia ada di Raja Ampat, meliputi 553 jenis terumbu karang dan 1.437 ikan karang.

Menurut Wakil Bupati Raja Ampat, Inda Arfan Samate, hingga saat ini banyak nelayan menangkap ikan menggunakan bom. Jadi, perusakan pantai dan laut termasuk terumbu karang tidak hanya serbuan sampah plastik, tetapi juga ulah manusia yang menggunakan bom. Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan merupakan persoalan yang pelik.

”Aparat keamanan perlu tegas jika ada pihak yang menggunakan bom untuk mencari ikan. Warga juga terus diingatkan agar tidak menggunakan segala cara untuk kesenangan sesaat karena bom ikan justru merusak terumbu karang dan biota laut,” katanya.

Keunggulan Raja Ampat tidak hanya berupa gugusan ratusan pulau, tetapi juga lautnya yang berwarna-warni. Varian biota serta pengaruh pantulan cahaya serta tingkat kedalaman laut amat sayang jika dihancurkan demi kepentingan sesaat.(Agnes Swetta Pandia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau